Thursday, March 3, 2011

10 Golongan yang diusir

 

image

Ingin berkongsi ilmu iaitu terdapat beberapa golongan yang akan di usir dari padang Mahsyar di atas perbuatan yang dilakukan ketika di dunia. Antara golongan itu ialah :

1- Mereka di usir berupa kera. Mereka adalah manusia yang
    suka mengadu domba.

2- Mereka di usir berupa bab*. Mereka adalah yang suka
    memakan barang yang haram.

3- Mereka dihalau dalam keadaan terbalik kaki di atas dan
    kepala di bawah. Mereka adalah dari golongan yang suka
    berdusta.

4- Mereka dihalau dalam keadaan bisu dan pekak serta
    tidak berakal. Mereka adalah dari golongan yang riak
    bangga diri dan sombong.

5- Mereka dihalau dalam keadaan mengunyah lidah sendiri
    sedangkan lidahnya itu menjulur ke bawah sampai ke
    dadanya dan dari mulut keluar nanah yang menjijikan.
    Mereka adalah ahli pidato yang ucapannya berlainan
    dengan perilakunya.

6- Mereka dihalau dalam keadaan tersalib di pohon kurma
    dari neraka. Mereka adalah menusia yang berusaha
    mengajak orang ramai untuk menyokong pemimpin yang
    tidak jujur.

7- Mereka dihalau dalam keadaan terpotong tangan dan
    kakinya. Mereka adalah orang-orang yang mengganggu
    jiran-jiran.

8- Mereka dihalau dalam keadaan buta. Mereka adalah
    golongan yang curang dalam menetapkan hukum.

9- Mereka dihalau dalam keadaan busuknya lebih busuk
    daripada bau bangkai. Mereka adalah orang yang gemar
    melepaskan nafsu syahwat dan menolak perkara wajib
    seperti zakat, puasa, tidak menjalankan kerja dakwah
    dan sebagainya.

10-Mereka dikumpulkan dalam keadaan memakai pakaian
     besi yang panas. Mereka ini adalah manusia yang syirik
     kepada Allah.

Marilah kita sama-sama renungi, adakah kita akan tergolong di antara golongan-golongan di atas???? Jika kita tidak mahu tergolong dengan mereka, maka perbaikilah diri kita dari sekarang sementara kita mempunyai hidup di dunia yang fana ini.

[tweetmeme only_single="false"]

Menghias hati dengan menangis

 

image

Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, nescaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (hari. Bukhari dan Muslim) Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.

Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.

Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.

Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.

Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.

Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.

Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.

Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (hari. Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.

[tweetmeme only_single="false"]

Suami saya lelaki soleh

 

image

"Apakah doa kamu?"
"Semoga dikurnia suami soleh yang boleh membimbing saya dunia dan akhirat"

Jawapan begini biasa diberikan gadis yang bakal mendirikan rumahtangga ataupun pengantin baru.

Kebanyakan wanita jika diajukan mengenai jodoh, mahukan suami soleh. Tetapi, apakah suami yang diidamkan itu, benar-benar memenuhi keperluan wanita? Cuba kita jenguk apa yang berlaku dalam sesebuah rumahtangga selepas doa sigadis untuk mendapatkan 'lelaki soleh' mungkin sudah dimakbulkan Allah.

Lelaki yang soleh amat takut kepada Allah. Salah satu bukti ketakutannya kepada Allah ialah mengerjakan solat. Jadi lelaki yang soleh akan menyuruh, malah kekadang sehingga menyuruh, malah memaksa isterinya solat. Tetapi ada isteri yang liat untuk solat, sedangkan sebelum kahwin dia kata dia mahukan suami yang soleh.

Sedang si isteri sedap tidur di waktu malam, si suami mengejutkan suruh solat tahajud.

"Apalah suamiku ini?" rungut si isteri. Dulu si gadis mahukan lelaki soleh, tetapi selepas dapat lelaki soleh yang kejutkan si isteri untuk solat tahajud, dia marah-marah pula.

Lelaki yang soleh amat taat kepada Allah. Islam mewajibkan wanita tutup aurat. Jadi suami yang soleh tidak akan benarkan isterinya keluar rumah atau mengenakan pakaian sesuka hati. Atau berhias dan bermekap tebal. Suami yang
soleh akan memastikan si isteri tutup aurat. Tetapi ada isteri kurang senang dengan perkara begini. Bukankah dulu, anda berdoa untuk mendapat suami yang soleh, tetapi bila dimakbulkan anda bantah pula cakapnya!

Suami yang soleh tidak akan duduk di rumah sahaja -'berada di bawah ketiak isteri sepanjang hari'. Ini kerana jihad fisabilillah adalah antara program lelaki soleh. Dia akan sentiasa keluar untuk berjuang. Sama juga dengan mencari rezeki halal, sehingga kadang-kadang balik lewat malam. Ini lagi tak disukai wanita. Jika dulu anda dambakan suami soleh, bila dah dapat, cara hidupnya pulak yang tak anda sukai.

Lelaki yang soleh juga akan menjadikan masjid sebagai 'rumah keduanya'. Ini pun ada wanita tak suka, asyik-asyik ke masjid saja, kata mereka. Lelaki yang soleh amat taat kepada kedua ibubapanya. Malah, baktinya kepada ibubapanya melebihi kepada isteri. Ini menyebabkan sesetengah isteri amat cemburu. Dulu anda mahukan lelaki yang soleh (amat taat kepada ibunya), bila
dah dapat, anda marah pula! Macamana doa anda dulu??

Lelaki yang soleh juga tidak hidup bermewah-mewah. Wangnya yang banyak dihabiskan dalam perjuangan. Dia pun takut terima rasuah dan segala macam duit haram. Jadi dia tak dapatlah beri barang-barang mewah seperti rumah besar, kereta besar dan rantai berjela kepada isteri dan keluarganya. Dalam perkara ini pun ada isteri yang tak gemar. Jika dulu doa mahukan suami soleh, tetapi sekarang tidak suka pula sikapnya.

Lelaki yang soleh mahu menjauhkan diri daripada maksiat. Dia buat yang halal sahaja. Salah satu perkara yang halal ialah kahwin empat. Ini memang mana-mana perempuan pantang, malah membenci suaminya kahwin lagi. Bukankah dulu anda mahukan lelaki yang soleh?

Demikian banyaknya perkara yang tidak disukai oleh isteri, walaupun doanya dulu mahu mendapat suami yang soleh. Berdasarkan kriteria yang dibincangkan di atas, jelaslah suami yang soleh tidak dapat memberikan sebahagian besar
daripada kehendak duniawi si isteri. Si isteri tak perlulah mengeluh, sebaliknya bersyukur kerana doa untuk mendapatkan suami yang soleh, mungkin telah dimakbulkan Allah. Ingatlah, isteri-isteri Rasulullah s. a. w. sendiri pernah ditawarkan pilihan dunia (kesenangan) atau akhirat. Akhirnya mereka memilih akhirat.

[tweetmeme only_single="false"]

Memerhati yang tersayang tidur

 

image

Renungkan/lihatlah betapa sayangnya kita pada mereka...
Pernahkah anda menatap orang-orang yang anda sayang saat mereka sedang tidur? Kalau belum, cubalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun akan tampak polos dan jauh berbeza jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sedarilah, betapa badan yang dulu kuat dan gagah itu kini semakin tua dan lemah, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya.
Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah. ...
Lihatlah ibu anda.... Hmm...kulitnya mulai keriput dan tangan
yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu kini kasar kerana menempuhi kehidupan yang mencabar demi kita. Orang inilah yang tiap hari menguruskan keperluan kita.
Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan membebeli kita semata- mata kerana rasa kasih dan sayang, dan sayangnya itu sering kita salah ertikan.

Cubalah menatap wajah orang-orang yang kita cintai.. sayangi itu... Ayah, Ibu, Suami, Isteri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya...

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir perlahan-lahan saat menatap wajah mereka yang terlelap itu. Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk
kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang-kadang tertutupi oleh salah faham kecil yang entah Kenapa selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu akan tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan serta memenatkan mereka namun enggan mereka ungkapkan.
Dan ekspresi wajah ketika tidur pun membantu untuk mengungkap segalanya. Tanpa kata, tanpa suara dia
berkata... "betapa lelahnya..penatnya aku hari ini".
Dan penyebab lelah dan penat itu? Untuk siapa dia berpenat lelah Tak lain adalah KITA.....

Suami yang bekerja keras mencari nafkah, isteri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah.
Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah menemani hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan rasa terharu seketika menerpa jika
mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok mereka "orang-orang terkasih itu" tak lagi membuka matanya, untuk selamanya ... "

[tweetmeme only_single="false"]

Wednesday, March 2, 2011

Bacalah Al-Quran

 

image

 image

"Ramai antara kita menyimpan sekurang-kurangnya senaskah al-Quran di bilik masing-masing. Mungkin hanya sebilangan kecil sahaja daripada bilangan yang ramai itu menjadikan alQuran sebagai bacaan harian. Sebahagian daripadanya mungkin sudah berbulan-bulan tidak menyentuhnya dan mungkin ada juga yang hanya menyentuhnya setiap kali hari jumaat sahaja.

Selebihnya mungkin menjadikan al-Quran sebagai perhiasan sahaja. Sebagai muslim, kita semua tahu akan keistimewaan dan ganjaran membaca al-Quran. Tetapi mungkin kerana kelemahan kita untuk menguasai bahasa arab menyebabkan kita tidak tertarik untuk membaca sesuatu yang kita tidak faham.

Kebaikan membaca al-Quran sangat banyak, di antaranya ialah; bagi orang yang membaca al-Quran dengan maksud untuk menghafalnya dan dilakukan dengan susah payah maka baginya dua kali pahala, iaitu pahala membaca dan pahala susah payah dalam menghafalnya. Manakala orang yang membaca al-Quran dengan lisan yang tertatih-tatih dan rasa susah (gagap) maka baginya dua pahala juga.

Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah bersabda, ”Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka akan mendapat hasanat dan setiap hasanat mempunyai 10 kali ganda pahala. Aku tidak mengatakan bahwa ‘Alif Lam Mim’ itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (hari Tirmidzi)

Mungkin tidak ada masalah untuk membaca al-Quran pada masa iman tengah naik. Tetapi untuk menjadikannya sebagai rutin harian mungkin agak berat. Iman itu ada pasang surutnya. Antara cara mendorong diri supaya konsisten membaca quran ialah:

1. Jangan simpan quran di tempat yang sukar dicapai. Letaklah di tempat yang selalu anda lakukan kerja atau di tempat yang senang dilihat supaya anda tidak lupa dan senang terdorong untuk membacanya. Contohnya anda boleh menyimpan quran di atas meja belajar, sebelah komputer atau di kepala katil anda. Lebih mudah jika di simpan di tempat yang tidak memerlukan anda bangun dari kerusi anda. Maknanya simpan dekat dengan tempat anda duduk dan dalam capaian anda.

2. Jangan letakkan target yang luar biasa. Jika anda jarang-jarang membaca quran, sudah cukup baik jika anda ‘aim’kan untuk membaca 7 baris ayat (setengah muka surat) setiap hari. Jangan sekali-kali cuba untuk membaca seberapa banyak ayat yang mungkin (jangan tertipu dengan semangat), tetapi berusahalah untuk melaziminya setiap hari walaupun sekadar beberapa ayat. Anda tidak dikira benar-benar berjaya jika mampu membaca 7 baris ayat tersebut, tetapi kejayaan yang sebenar ialah apabila 7 baris ayat itu sebati menjadi bacaan rutin harian anda. Setiap orang boleh meletakkan target masing-masing berdasarkan kemampuan diri.

3. Bermulalah dengan surah yang anda minati. Jika anda tidak tahu surah apa yang anda minat, saya syorkan anda mendengar (mp3) bacaan surah Yusuf oleh Syeikh Saad Said al-Ghamidi. Dapatkan ‘feel’ daripada alunan bacaannya. Kemudian bacalah bermula dari surah tersebut dengan menggunakan alunan lagu yang sama.

4. Bagi yang belum lancar bacaan, gunakanlah sedikit duit untuk membeli vcd bacaan quran yang mempunyai visual ayat dan audio bacaan. Software ini sangat membantu untuk kita mengenal pasti cara bacaan yang betul. Rujuklah software ini apabila bacaan anda tersangkut atau anda tidak yakin bagaimana cara sebutan yang betul.

5. Kadang-kadang kita ada keinginan untuk membaca quran. Tetapi keinginan itu terbantut disebabkan rasa malas untuk ke bilik air mengambil wudhuk. Barangkali sejuk untuk membasahkan diri. Lawatilah www.quranflash.com. Gunakanlah paparan quran yang cantik itu dengan sebaiknya. Anda tidak perlu bersusah payah untuk berwudhuk terlebih dahulu. Anda juga boleh membacanya pdaa bila-bila masa sahaja. Apa salahnya jika meluangkan sedikt masa anda di depan komputer untuk membaca quranflash ini. Untuk pengetahuan anda, setiap kali anda melayari quranflash, ia akan membuka paparan pada muka surat yang sama seperti mana ketika anda menutupnya. Jadi anda boleh melanjutkan bacaan anda secara konsisten sehingga surah yang anda baca itu tamat.

Semoga kita semua diberi kekuatan dan kesihatan oleh Allah untuk sentiasa mendengar, membaca, mempelajari dan mengamalkan isi kandungan al-Quran dalam kehidupan seharian.

p/s: Tahukah anda, masa yang diambil untuk membaca satu muka surat (15 baris ayat) dengan kadar (kelajuan) bacaan yang normal hanyalah 4 minit sahaja. Maknanya hanya 2 minit sahaja diperlukan setiap hari untuk membaca separuh muka surat daripada quran.

[tweetmeme only_single="false"]

Umat Islam Umpama Buih

 

image

image

Dunia Islam kian tercabar; dicabar dan dihina oleh musuh-musuh islam. Umat Islam tidak dapat berbuat apa-apa melihat saudara seagamanya ditindas. Hal ini sudah dapat diramal oleh Nabi Muhammad saw sejak dulu lagi, dalam hadithnya:

"Umat lain akan meratah kamu dengan rakus sebagaimana anjing-anjing yang mengelilingi hidangan makanan. Sahabat bertanya adakah kerana bilangan umat islam yang sedikit? Baginda menjawab Tidak, bahkan jumlah kamu masa itu banyak sebagaimana banyaknya buih di permukaan air banjir. Allah mengikis perasaan gerun di dalam hati musuh terhadap kamu 'al-wahan'. Sahabat bertanya apa dia wahan itu ya Rasulullah. Jawab baginda "cintakan dunia dan bencikan akhirat".

Mari kita renung sejenak tentang kebenaran sabda Rasulullah ini. Jumlah umat Islam pada hari ini mencecah lebih 1 billion, satu angka yang ramai. Mereka bertebaran di muka bumi ini; kebanyakannya tinggal di negara yang dikurniakan Allah hasil bumi yang lumayan.

Sumber ekonomi yang kukuh dan tenaga kerja yang ramai boleh menjadi aset memajukan negara dan sekaligus memartabatkan Islam sehingga disegani seantero dunia. Persoalannya ialah Kenapa faktor-faktor ini tidak dimanfaatkan? Kenapa umat Islam kini menjadi lemah dan mudah diperkotak-katikkan oleh musuh-musuh Islam? Sebaliknya musuh Islam yang mempunyai kedudukan ekonomi yang kukuh menjalankan pelbagai strategi melumpuhkan dan memporak-perandakan negara Islam.

Hasil kekayaan bumi milik negara Islam dieksploit oleh musuh Islam. Negara Iraq yang kaya dengan sumber minyak dijajah dalam pelbagai bentuk hinggakan minyak sendiri pun tak boleh dijual untuk kegunaan rakyat. Kekayaan yang mereka perolehi hasil bumi negara Islam digunakan bagi membina kilang-kilang senjata untuk membunuh umat islam.

Nabi menjelaskan punca kelemahan ini ialah wujudnya kecintaan kepada dunia mengatasi kecintaan kepada akhirat. Apabila kecintaan ini meresap dan menjadi budaya hidup umat, Allah memasukkan perasaan berani dalam hati musuh Islam dan pada masa yang sama mencabut keberanian itu dalam hati orang Islam lalu digantikan dengan perasaan penakut: takut kepada musuh Islam.

Kejatuhan Baghdad ketika diserang oleh orang-orang Mongol sepatutnya dijadikan teladan supaya peristiwa hitam ini tidak akan berulang kembali. Adakah faktor-faktor kejatuhan Baghdad mula meresap dalam masyarakat dewasa ini. Masalah rasuah sekarang semakin menjadi. Ia telah meresap dalam pelbagai organisasi kepimpinan. Keadaan begini memudahkan musuh Islam menggunakan wang ringgit untuk membeli pucuk pimpinan supaya tercapai hasrat mereka melumpuhkan umat Islam sendiri. Jika dibiarkan berleluasa bukan saja ekonomi umat islam merudum malahan negara juga turut tergadai.

Bagaimana keadaan realiti masyarakat Islam sekarang? Sudahlah ekonomi lemah ditokok pula dengan pelbagai penyakit dan gejala sosial. Bagaimana dapat membasmi keruntuhan akhlak sekiranya media massa semakin galak menonjolkan isu-isu ganas dan seks. Isu pemulihan hanya sekadar melepas batuk di tangga dan seolah-olah 'lain sakit lain pula ubat yang diberi'.

Pelancaran TV Mega dan Astro serta alat komunikasi lain bukan menjadi ubat gejala sosial dewasa ini malah menjadikannya lebih kronik. Babak-babak yang tidak sepatutnya ditonton sudah menjadi semakin lumrah dan video lucah pula dapat dibeli oleh sesiapa sahaja. Bukankah ini menjadi pemangkin ke arah gejala yang lebih dahsyat? Umat Islam kini tidak mempunyai ketahanan dan iman yang kuat untuk menangkis serangan yang hebat ini. Semua ini adalah antara strategi dan perancangan musuh Islam yang tidak akan redha terhadap perkembangan Islam selamanya. Bayangkan apa yang akan berlaku beberapa tahun lagi dengan kemunculan teknologi IT yang semakin canggih.

Firman Allah dalam Al-Quran "Orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak redha terhadap kamu buat selama-lamanya sehinggalah kamu mengikut cara hidup mereka."

Masjid kian terpinggir dengan kewujudan kilang yang banyak. Manusia lebih suka ke kilang daripada masjid. Kilang diimarahkan siang dan malam tetapi masjid menjadi lengang,cuma diimarahkan dengan karpet dan keceriaan. Bukankah ini juga perancangan musuh islam? Lantaran cinta kepada dunia sanggup menjauhi masjid dan berkejaran ke kilang.

Dalam hadith tadi, Nabi memberi 2 faktor berlakunya begini: cintakan dunia dan benci kepada mati. Umat Islam generasi pertama dulu cintakan mati kerana dapat bertemu dengan Allah segera. Oleh sebab itu bila ada panggilan jihad, mereka sukarela bergabung tenaga memerangi musuh Islam. Mereka tidak takut menghadapi mati. Sebaliknya masyarakat Islam hari ini takut kepada mati malahan mengingatkan mati pun dianggap menyekat kemajuan. Mereka takut mati kerana memikirkan dosa yang terlalu banyak dilakukan dan sedikitnya amalan pahala yang dibuat. Akhirnya semangat jihad memperjuang dan menegakkan agama Allah pudar dan terhakis.

Oleh itu, sama-samalah kita menginsafi diri dan bertaubat di atas segala keterlanjuran yang kita lakukan. Hanya dengan kembali kepada Allah, segala penyakit akan terubat, insyaallah.

[tweetmeme only_single="false"]

Adakah KITA bersyukur?

 

image

Lafaz pujian nikmat kehidupan perlu disertai kesedaran di dalam hati

SUDAH menjadi lumrah ciptaan Allah, setiap manusia dijadikan tidak akan terlepas daripada menerima ujian walau pada saat mana sekali pun tanpa mengira tempat. Bentuk ujian diberi Allah ternyata berbeza di antara satu sama lain.

Ada manusia diuji dengan musibah dan kesusahan seperti rakan kita yang dilanda tsunami dan ancaman gunung berapi. Pada masa sama, ada di kalangan kita yang diuji dengan kemewahan dan hidup bersenang-lenang.

image

Kedua-dua bentuk ujian ini menuntut manusia untuk bersabar dan bersyukur. Sekiranya manusia ingkar untuk bersabar dan bersyukur, Allah mencabar golongan ini melalui sebuah Hadis Qudsi yang bermaksud: “Sekiranya Aku menguji kamu dengan kesusahan, kamu tidak mahu bersabar, dan sekiranya Aku menguji kamu dengan kenikmatan, kamu tidak mahu bersyukur, maka keluarlah kamu dari bumi dan langit Allah ini dan pergilah kamu mencari tuhan yang lain.”

Pada hakikatnya, apa saja pergolakan dan perubahan berlaku dalam hidup manusia ini tidak akan terlepas daripada dua bentuk ujian iaitu kesusahan dan kenikmatan. Sekali pandang, antara kedua-dua bentuk ujian ini, kita melihat bersabar itu lebih menuntut pengorbanan jika dibandingkan dengan bersyukur. Lazimnya manusia yang ditimpa musibah akan melalui kesusahan, keresahan, tekanan, penderitaan emosi dan jiwa bergelora. Sementara, bersyukur itu nampaknya mudah untuk dilaksanakan berbanding dengan bersabar kerana lazimnya manusia yang dilimpahi dengan kenikmatan dan kesenangan tidak mengalami tekanan dan penderitaan.

 

Apabila kita menyelak helaian al-Quran, ternyata andaian kita kurang tepat kerana Allah berfirman di dalam surah As-sabar’ ayat 13 yang bermaksud: “Hanya sedikit dari kalangan hamba Ku yang bersyukur”. Kenyataan Allah ini sebenarnya memberi jawapan kepada kita bahawa bersyukur itu lebih sukar dibandingkan dengan bersabar.

Bersyukur bukan semudah melafazkan ‘Alhamdulillah’ tetapi, setiap manusia yang dilimpahi nikmat bertanggungjawab untuk merealisasikan kesyukuran itu dalam semua aspek kehidupan yang meliputi setiap sendi anggota tubuhnya. Selain lidahnya tidak putus-putus melafazkan kalimah ‘Alhamdulillah’, hatinya juga perlu memperakui bahawa segala nikmat diterima itu adalah daripada Allah dan Allah boleh menarik balik nikmat itu pada bila-bila masa saja tanpa sebarang amaran.

Tanpa kesedaran hati, lafaz dilakukan oleh lidah itu tidak memberi kesan apa-apa, bahkan ‘seolah-olah’ mempersendakan nikmat yang diterima itu. rasa bersyukur itu tidak terhenti setakat pengakuan lidah dan hati saja bahkan seluruh kekuatan fizikal dan material yang ada perlu dibuktikan agar kesyukuran itu benar-benar terjelma.

Allah memberi kekayaan material, maka manusia perlu mensyukurinya dengan berbelanja pada jalan yang diredai Allah di samping membantu golongan lain yang tidak bernasib baik. Allah mengurniakan kesihatan dan kekuatan fizikal, maka ia perlu dijelmakan dengan pelaksanaan ibadat fizikal di samping mengorbankan tenaga yang ada untuk jalan kebaktian.

Tahap kesyukuran ini perlu dilalui setiap manusia yang menerima kurniaan daripada Allah, tanpa menyandarkan segala kesenangan, kemewahan, kesihatan dan sebagainya itu sebagai milik dan usaha sendiri. Justeru, pentingnya manusia memahami betapa sukarnya untuk bersyukur ini, maka Allah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 7 yang bermaksud: “Sekiranya kamu bersyukur di atas segala nikmat yang telah Aku kurniakan, nescaya Aku akan menambah lagi nikmat Ku itu. Sebaliknya andai kata engkau kufur terhadap nikmat Ku, ingatlah sesungguhnya seksaan Ku teramatlah pedih.”

Sekiranya kita meninjau tuntutan untuk melaksanakan sabar itu, tidaklah sehebat tuntutan yang diperlukan ketika bersyukur. Lazimnya manusia yang ditimpa musibah memilih bersabar kerana mereka tidak mempunyai banyak pilihan sama ada untuk pasrah dan bersabar di atas ketentuan Allah yang menimpa mereka atau mencabar keadilan Allah. Selagi manusia mempunyai iman di dalam hati, tidak mungkin mereka menafikan keadilan Allah yang memberi musibah dan kesusahan kepada mereka.

 

Ternyata untuk melaksanakan syukur tidak semudah yang disangka, dan untuk melaksanakan sabar tidak sepayah yang diduga. Selagi manusia memilih untuk taat pada perintah Allah, mereka pasti mampu untuk mengimbangi tuntutan syukur dan sabar ini di dalam diri mereka.

[tweetmeme only_single="false"]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...